MEMBUMIKAN AL- QUR’AN TRADISI LISAN SEBAGAI WAJAH LIVING QUR’AN REFLEKSI YASINAN RUTIN, YASINAN KELILING RUMAH WARGA, DAN KHATAMAN AL- QUR’AN BERSAMA WARGA PROGRAM KKN STUDI ILMU QUR’AN DAN TAFSIR

Penulis

  • Azizah stiqnis
  • Shaimatus Syarifah
  • Wildatul Rahmatin

Kata Kunci:

Living Qur'an, Completing The Qur'an, Religious Practices, Village Communities

Abstrak

Kajian Living Qur’an merupakan pendekatan dalam studi Al-Qur’an yang menekankan bahwa teks suci tidak hanya dipahami secara normatif, tetapi juga dihidupkan dalam praktik sosial masyarakat. Pendekatan ini memandang Al-Qur’an sebagai realitas dinamis yang hadir dalam bentuk tradisi, ritual, dan kebiasaan keagamaan umat Islam. Dalam konteks ini, tradisi lisan memiliki peran sentral sebagai medium transmisi dan internalisasi nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam praktik yasinan rutin, yasinan keliling dusun, dan khataman Al-Qur’an sebagai bentuk manifestasi Living Qur’an dalam masyarakat Desa Kebundadap Timur, Saronggi, Sumenep, khususnya dalam kegiatan KKN STIQNIS Karangcempaka. Kajian ini menyoroti bagaimana praktik tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai ruang sosial, kultural, dan edukatif yang memperkuat relasi antara teks Al-Qur’an dan kehidupan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan sosiologi agama. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh agama, warga, serta mahasiswa KKN, dan dokumentasi kegiatan. Analisis dilakukan secara interpretatif untuk memahami makna praksis keagamaan dari perspektif pelaku sosial dalam konteks kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yasinan rutin berperan dalam membentuk kebiasaan religius dan kesadaran kolektif masyarakat. Yasinan keliling dusun berfungsi sebagai media integrasi sosial yang memperkuat solidaritas berbasis nilai keagamaan. Sementara itu, khataman Al-Qur’an menjadi simbol puncak interaksi masyarakat dengan teks suci yang sarat dengan makna spiritual dan kultural. Ketiga praktik tersebut mencerminkan keberlangsungan tradisi lisan Al-Qur’an yang hidup dalam masyarakat. Selain itu, keterlibatan mahasiswa KKN berperan sebagai agen transformasi yang memperkuat dimensi edukatif dan reflektif dalam praktik Living Qur’an. Dengan demikian, tradisi lisan tidak hanya mempertahankan keberadaan Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat, tetapi juga menjadikannya sebagai sumber nilai yang terus diaktualisasikan dalam konteks sosial yang dinamis.

##submission.downloads##

Diterbitkan

2026-08-21